ABSTRAK
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN MOBILISASI DINI TERHADAP PERCEPATAN MOBILISASI
DINI PADA PASIEN POST OPERASI ABDOMEN DI RSU BAHTERAMAS PROVINSI SULAWESI
TENGGARA
Tindakan pembedahan mengakibatkan
timbulnya luka pada bagian tubuh pasien. Adanya luka menyebabkan rasa nyeri.
Rasa nyeri setelah pembedahan biasanya berlangsung 24 sampai 48 jam, namun
dapat berlangsung lebih lama tergantung pada luas luka, penahan nyeri yang
dimiliki pasien dan respon terhadap nyeri. Nyeri dapat memperpanjang masa
penyembuhan, karena mengganggu kembalian aktifitas pasien dan yang menjadi
salah satu alasan pasien untuk tidak mau bergerak atau melakukan mobilisasi
segera. Tujuan penelitian ini adalah pengaruh pendidikan kesehatan mobilisasi
dini terhadap percepatan mobilisasi dini pada pasien post operasi abdomen di
RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.
Metode analisis menggunakan quasi eksperimen research. Besarnya
populasi 20 orang dengan teknik penarikan sampel secara total sampling. Jenis penelitian quasy eksperiment dengan
rancangan postest only control group
design.
Berdasarkan hasil perhitungan
uji t perbandingan dua sampel yang berbeda (t-test) terhadap pasien post
operasi abdomen di Ruang Bedah RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara
didapatkan nilai kontrol menunjukkan ρ = 0.004 dan kasus menunjukkan nilai ρ =
0,005 yang lebih kecil dari nilai alpha 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan antara hasil observasi (%) percepatan mobilisasi dini pada
kontrol dan kasus tersebut.
Oleh karena itu, diharapkan bagi
petugas pelayanan kesehatan dalam hal ini perawat untuk
terus menggalakkan sosialisasi pendidikan kesehatan terhadap percepatan mobilisasi pada pasien
post operasi abdomen.
Kata Kunci : Percepatan mobilisasi pada pasien post operasi
abdomen –
Pendidikan kesehatan.
Daftar Pustaka : 17 (2008-2014)
ABSTRACT
FACTORS RELATED TO PATIENT
SATISFACTION IN INPATIENT
HEALTH DISTRICT LASOLO KONAWE NORTH
DISTRICT 2014”.
Conditions showed patient
satisfaction problems that exist
in the health center are complaints from the
users of health services being targeted is the attitude and actions of physicians, nurses, administrative, and inaction services,
drug supplies, inadequate
facilities, and medical
equipment. Formulation of the problem in this study is what
factors are associated with patient satisfaction. This study aimed to determine what factors are associated
with patient satisfaction in health centers Lasolo
Lasolo District of North Konawe.
This research is analytic study with
cross sectional study. The
population of this study were
all hospitalized at PHC Lasolo Lasolo
Konawe Northern District
of January-March 2014 as many as
70 people. The
study sample is all hospitalized patients in the health center in 2014, amounting Lasolo 41 respondents
using accidental sampling technique.
This study shows that there
is a significant relationship between
patient satisfaction with reliability (x2Hit =
16,443), responsiveness (x2Hit = 4.640), assurance
(x2Hit = 10,791)
and attention (x2Hit
= 7.791).
Advice for local governments to provide assistance to health
center staff to improve their
ability to follow the way of training, courses
and seminars on improving
the quality of patient care.
Keywords : Reliability, Responsiveness, Assurance, Attention
Bibliography : 24 (2004 – 2014)
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Tindakan pembedahan
merupakan salah satu bentuk terapi medis dan merupakan pengalaman menegangkan
bagi sebagian pasien yang dapat mendatangkan stres karena terdapat ancaman terhadap
tubuh, integritas, dan nyawa seseorang
(Long, 2010).
Tindakan pembedahan
mengakibatkan timbulnya luka pada bagian tubuh pasien. Adanya luka menyebabkan
rasa nyeri. Rasa nyeri setelah pembedahan biasanya berlangsung 24 sampai 48
jam, namun dapat berlangsung lebih lama tergantung pada luas luka, penahan
nyeri yang dimiliki pasien dan respon terhadap nyeri. Nyeri dapat memperpanjang
masa penyembuhan, karena mengganggu kembalian aktifitas pasien dan yang menjadi
salah satu alasan pasien untuk tidak mau bergerak atau melakukan mobilisasi
segera (Long, 2010).
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak
bebas, mudah, teratur, dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehat dan penting
untuk kemandirian (Kozier 2011). Demikian pula dengan pasien post operasi
diharapkan dapat melakukan mobilisasi sesegera mungkin, seperti melakukan
gerakan kaki, bergeser di tempat tidur, melakukan nafas dalam dan batuk efektif
dengan membebat luka atau dengan jalinan kedua tangan di atas luka opersi,
serta teknik bangkit dari tempat tidur (Brunner & Suddarth, 2011). Manfaat
dari mobilisasi dini salah satunya yaitu peningkatan sirkulasi darah yang dapat
menyebabkan pengurangan rasa nyeri, mencegah tromboplebitis, memberi nutrisi
untuk penyembuhan pada daerah luka, dan meningkatkan kelancaran fungsi ginjal
(Long, 2010).
Kemajuan pasien dalam
melaksanakan mobilisasi pergerakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain seperti usia, status perkembangan, pengalaman yang lalu atau riwayat
pembedahan sebelumnya, gaya hidup, proses penyakit/ injury, tingkat pendidikan dan pemberian informasi oleh petugas
kesehatan (Kozier, 2011). Pemberian informasi atau penjelasan tentang
pentingnya mobilisasi sebaiknya diberikan pada pasien sebelum operasi
dilaksanakan, guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan atau kepatuhan pasien post pembedahan melaksanakan
mobilisasi. Salah satu penatalaksanaannya yaitu dengan memberikan penyuluhan
atau pendidikan kesehatan.
Penyuluhan pada pasien yang
akan dilakukan tindakan pembedahan diberikan dengan tujuan meningkatkan
kemampuan adaptasi pasien dalam menjalani rangkaian prosedur pembedahan
sehingga klien diharapkan lebih kooperatif dalam perawatan post operasi, dan
mengurangi resiko komplikasi post operasi (Ignativicius, 2009). Mendefinisikan
penyuluhan tentang pentingnya mobilisasi adalah tindakan suportif dan
pendidikan yang dilakukan perawat agar perilaku pasien post operasi dapat
berubah dari ketidaktahuan menjadi paham akan perawatan dirinya, dan khususnya
mengenai mobilisasi post operasi, pasien telah mempunyai gambaran atau
pengetahuan perawatan post operasi (Long, 2010).
Penyuluhan pasien pre
operasi perlu dipersiapkan dengan baik terutama penggunaan metode penyuluhan,
sehingga partisipasi aktif pasien post operasi dalam meningkatkan kesehatan
dirinya akan lebih baik. Sebagaimana diketahui bahwa penyuluhan pre operasi
merupakan upaya perawat sebagai pendidik dengan tujuan merubah perilaku pasien
dalam pencapaian tujuan (Notoatmojo, 2008).
Angka kejadian apendisitis, herniotomy dan cholelitiasis di dunia mencapai 321 juta
kasus tiap tahun (Handwashing 2006). Statistic di Amerika mencatat setiap tahun
terdapat 20 – 35 juta kasus apendisitis (Departemen Republik Indonesia, 2008).
Statistic menunjukan bahwa setiap tahun apendisitis herniotomy dan cholelitiasis menyerang 10 juta penduduk Indonesia.
Menurut Lubis. A (2008), saat ini morbiditas angka apendisitis di Indonesia
mencapai 95 per 1000 penduduk dan angka ini merupakan tertinggi di antara
Negara-negara di Assosiation south East Asia Nation (ASEAN).
Survey di 12 provinsi tahun 2012 menunjukan
jumlah appendectomy, herniotomy dan cholesistectomy
yang
dirawat di rumah sakit sebanyak 3.251 kasus. Jumlah ini meningkat drastis
dibandingkan dengan tahun sebelumnya,yaitu sebanyak 1.236 orang. Di awal tahun
2013, tercatat 2.159 orang di Jakarta yang dirawat di rumah sakit akibat appendectomy,
herniotomy dan cholelitiasis
(Ummualya. 2008), melihat data tersebut dan kenyataan bahwa masih banyak kasus
apendisitis yang tidak terlaporkan, Departemen Kesehatan menganggap appendectomy
merupakan isu prioritas kesehatan di tingkat lokal dan nasional karena
mempunyai dampak besar pada kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2008)
Berdasarkan pendataan awal RSU
Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara jumlah kasus pembedahan pasien periode
tahun 2012 sebanyak 298 orang, periode tahun 2013 sebanyak 321 orang, sedangkan
Januari-Maret 2014 dengan kasus pembedahan sebanyak 88 orang (dengan rincian appendictomy sebanyak 41 orang, herniotomy sebanyak 35 orang dan cholelitiasis sebanyak 12 orang).
Dari hasil pengamatan yang
dilakukan di Ruang Bedah RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara pada bulan Februari
2014 jumlah pasien yang dirawat sebanyak 40 pasien dengan bermacam-macam kasus
pembedahan. Dari jumlah tersebut didapatkan kasus pembedahan abdomen sebanyak 22
pasien. Dari 22 pasien tersebut didapatkan ± 70%
(± 15
pasien) yang tidak segera melaksanakan mobilisasi setelah dilakukan pembedahan.
Sebagian diantara pasien tersebut memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan
berasal dari daerah pedesaan, dimana mereka masih menganut kepercayaan atau
keyakinan-keyakinan yang bertentangan dengan kesehatan.
Beberapa alasan dari
penderita yang tidak segera melakukan mobilisasi adalah karena rasa sakit pada
luka operasi, takut kalau dibuat bergerak jahitan pada luka operasi lepas, dan
tidak tahu kalau sebenarnya sudah diperbolehkan untuk mobilisasi.. Dari hasil
pengamatan ini, dapat disimpulkan bahwa kurangnya informasi/ pengetahuan
tentang pentingnya/ manfaat mobilisasi akan sangat merugikan bagi pasien.
Karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang nantinya akan memperlambat
proses penyembuhan dan memperpanjang hari perawatan.
Berdasarkan uraian tersebut
di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pendidian
Kesehatan Mobilisasi Dini Terhadap
Percepatan Mobilisasi Dini Pada Pasien Post Operasi Abdomen di RSU Bahteramas
Provinsi Sulawesi Tenggara”.
B.
Rumusan
Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
“Adakah pengaruh pendidikan kesehatan mobilisasi dini terhadap percepatan
mobilisasi dini pada pasien post operasi abdomen di RSU Bahteramas Provinsi
Sulawesi Tenggara?”.
C.
Tujuan
Penelitian
1. Tujuan
Umum
Untuk mengetahui adanya pengaruh
pendidikan kesehatan mobilisasi dini terhadap percepatan mobilisasi dini pada pasien
post operasi abdomen di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.
2. Tujuan
Khusus
a. Mengobservasi
mobilisasi pasca operasi abdomen pada kelompok yang diberi intervensi pendidikan
kesehatan tentang mobilisasi dini di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.
b. Mengobservasi
mobilisasi pasca operasi abdomen pada kelompok yang tidak diberikan intervensi pendidikan
kesehatan mobilisasi dini di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.
c. Mengidentifikasi
pengaruh pendidikan kesehatan mobilisasi dini terhadap percepatan mobilisasi dini
pada pasien post operasi abdomen di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.
D.
Manfaat
Penelitian
1. Teoritis
a. Dengan
pemberian penyuluhan tentang manfaat mobilisasi dini pasca pembedahan diharapkan
dapat meningkatkan kemandirian dan kepatuhan penderita dalam melaksanakan
mobilisasi dini.
b. Dari
segi pengembangan ilmu, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan
masukan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan untuk kemajuan profesi
keperawatan dalam bidang pengetahuan dan tehnologi.
2. Praktis
a. Bagi
pasien dengan melaksanakan mobilisasi dini post pembedahan dapat mencegah
komplikasi dan mempersingkat hari perawatan.
b. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan bahan pertimbangan bagi
instansi dalam upaya meningkatkan mutu pelayan pada konsumen.
c. Dapat
digunakan sebagai data dasar, acuan atau informasi untuk penelitian
selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar