Selasa, 02 September 2014

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN MOBILISASI DINI TERHADAP PERCEPATAN MOBILISASI DINI PADA PASIEN POST OPERASI ABDOMEN



ABSTRAK


PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN MOBILISASI DINI TERHADAP PERCEPATAN MOBILISASI DINI PADA PASIEN POST OPERASI ABDOMEN DI RSU BAHTERAMAS PROVINSI SULAWESI TENGGARA


Tindakan pembedahan mengakibatkan timbulnya luka pada bagian tubuh pasien. Adanya luka menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri setelah pembedahan biasanya berlangsung 24 sampai 48 jam, namun dapat berlangsung lebih lama tergantung pada luas luka, penahan nyeri yang dimiliki pasien dan respon terhadap nyeri. Nyeri dapat memperpanjang masa penyembuhan, karena mengganggu kembalian aktifitas pasien dan yang menjadi salah satu alasan pasien untuk tidak mau bergerak atau melakukan mobilisasi segera. Tujuan penelitian ini adalah pengaruh pendidikan kesehatan mobilisasi dini terhadap percepatan mobilisasi dini pada pasien post operasi abdomen di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.
Metode analisis menggunakan quasi eksperimen research. Besarnya populasi 20 orang dengan teknik penarikan sampel secara total sampling. Jenis penelitian quasy eksperiment dengan rancangan postest only control group design. Berdasarkan hasil perhitungan uji t perbandingan dua sampel yang berbeda (t-test) terhadap pasien post operasi abdomen di Ruang Bedah RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara didapatkan nilai kontrol menunjukkan ρ = 0.004 dan kasus menunjukkan nilai ρ = 0,005 yang lebih kecil dari nilai alpha 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa  terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil observasi (%) percepatan mobilisasi dini pada kontrol dan kasus tersebut.
Oleh karena itu, diharapkan bagi petugas pelayanan kesehatan dalam hal ini perawat untuk terus menggalakkan sosialisasi pendidikan kesehatan terhadap percepatan mobilisasi pada pasien post operasi abdomen.

Kata Kunci        : Percepatan mobilisasi pada pasien post operasi abdomen 
                              Pendidikan kesehatan.
Daftar Pustaka  : 17 (2008-2014)

ABSTRACT

FACTORS RELATED TO PATIENT SATISFACTION IN INPATIENT HEALTH DISTRICT LASOLO KONAWE NORTH DISTRICT 2014”.


Conditions showed patient satisfaction problems that exist in the health center are complaints from the users of health services being targeted is the attitude and actions of physicians, nurses, administrative, and inaction services, drug supplies, inadequate facilities, and medical equipment. Formulation of the problem in this study is what factors are associated with patient satisfaction. This study aimed to determine what factors are associated with patient satisfaction in health centers Lasolo Lasolo District of North Konawe.
This research is analytic study with cross sectional study. The population of this study were all hospitalized at PHC Lasolo Lasolo Konawe Northern District of January-March 2014 as many as 70 people. The study sample is all hospitalized patients in the health center in 2014, amounting Lasolo 41 respondents using accidental sampling technique.
This study shows that there is a significant relationship between patient satisfaction with reliability (x2Hit = 16,443), responsiveness (x2Hit = 4.640), assurance (x2Hit = 10,791) and attention (x2Hit = 7.791).
Advice for local governments to provide assistance to health center staff to improve their ability to follow the way of training, courses and seminars on improving the quality of patient care.

Keywords           : Reliability, Responsiveness, Assurance, Attention
Bibliography      :  24 (2004 – 2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Tindakan pembedahan merupakan salah satu bentuk terapi medis dan merupakan pengalaman menegangkan bagi sebagian pasien yang dapat mendatangkan stres karena terdapat ancaman terhadap tubuh, integritas, dan  nyawa seseorang (Long, 2010).
Tindakan pembedahan mengakibatkan timbulnya luka pada bagian tubuh pasien. Adanya luka menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri setelah pembedahan biasanya berlangsung 24 sampai 48 jam, namun dapat berlangsung lebih lama tergantung pada luas luka, penahan nyeri yang dimiliki pasien dan respon terhadap nyeri. Nyeri dapat memperpanjang masa penyembuhan, karena mengganggu kembalian aktifitas pasien dan yang menjadi salah satu alasan pasien untuk tidak mau bergerak atau melakukan mobilisasi segera (Long, 2010). 
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah, teratur, dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehat dan penting untuk kemandirian (Kozier 2011). Demikian pula dengan pasien post operasi diharapkan dapat melakukan mobilisasi sesegera mungkin, seperti melakukan gerakan kaki, bergeser di tempat tidur, melakukan nafas dalam dan batuk efektif dengan membebat luka atau dengan jalinan kedua tangan di atas luka opersi, serta teknik bangkit dari tempat tidur (Brunner & Suddarth, 2011). Manfaat dari mobilisasi dini salah satunya yaitu peningkatan sirkulasi darah yang dapat menyebabkan pengurangan rasa nyeri, mencegah tromboplebitis, memberi nutrisi untuk penyembuhan pada daerah luka, dan meningkatkan kelancaran fungsi ginjal (Long, 2010).
Kemajuan pasien dalam melaksanakan mobilisasi pergerakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain seperti usia, status perkembangan, pengalaman yang lalu atau riwayat pembedahan sebelumnya, gaya hidup, proses penyakit/ injury, tingkat pendidikan dan pemberian informasi oleh petugas kesehatan (Kozier, 2011). Pemberian informasi atau penjelasan tentang pentingnya mobilisasi sebaiknya diberikan pada pasien sebelum operasi dilaksanakan, guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan atau kepatuhan  pasien post pembedahan melaksanakan mobilisasi. Salah satu penatalaksanaannya yaitu dengan memberikan penyuluhan atau pendidikan kesehatan.
Penyuluhan pada pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan diberikan dengan tujuan meningkatkan kemampuan adaptasi pasien dalam menjalani rangkaian prosedur pembedahan sehingga klien diharapkan lebih kooperatif dalam perawatan post operasi, dan mengurangi resiko komplikasi post operasi (Ignativicius, 2009). Mendefinisikan penyuluhan tentang pentingnya mobilisasi adalah tindakan suportif dan pendidikan yang dilakukan perawat agar perilaku pasien post operasi dapat berubah dari ketidaktahuan menjadi paham akan perawatan dirinya, dan khususnya mengenai mobilisasi post operasi, pasien telah mempunyai gambaran atau pengetahuan perawatan post operasi (Long, 2010).
Penyuluhan pasien pre operasi perlu dipersiapkan dengan baik terutama penggunaan metode penyuluhan, sehingga partisipasi aktif pasien post operasi dalam meningkatkan kesehatan dirinya akan lebih baik. Sebagaimana diketahui bahwa penyuluhan pre operasi merupakan upaya perawat sebagai pendidik dengan tujuan merubah perilaku pasien dalam pencapaian tujuan (Notoatmojo, 2008).
Angka kejadian apendisitis, herniotomy dan cholelitiasis di dunia mencapai 321 juta kasus tiap tahun (Handwashing 2006). Statistic di Amerika mencatat setiap tahun terdapat 20 – 35 juta kasus apendisitis (Departemen Republik Indonesia, 2008). Statistic menunjukan bahwa setiap tahun apendisitis herniotomy dan cholelitiasis menyerang 10 juta penduduk Indonesia. Menurut Lubis. A (2008), saat ini morbiditas angka apendisitis di Indonesia mencapai 95 per 1000 penduduk dan angka ini merupakan tertinggi di antara Negara-negara di Assosiation south East Asia Nation (ASEAN).
Survey di 12 provinsi tahun 2012 menunjukan jumlah appendectomy, herniotomy dan cholesistectomy yang dirawat di rumah sakit sebanyak 3.251 kasus. Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan dengan tahun sebelumnya,yaitu sebanyak 1.236 orang. Di awal tahun 2013, tercatat 2.159 orang di Jakarta yang dirawat di rumah sakit akibat appendectomy, herniotomy dan cholelitiasis (Ummualya. 2008), melihat data tersebut dan kenyataan bahwa masih banyak kasus apendisitis yang tidak terlaporkan, Departemen Kesehatan menganggap appendectomy merupakan isu prioritas kesehatan di tingkat lokal dan nasional karena mempunyai dampak besar pada kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2008) 
Berdasarkan pendataan awal RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara jumlah kasus pembedahan pasien periode tahun 2012 sebanyak 298 orang, periode tahun 2013 sebanyak 321 orang, sedangkan Januari-Maret 2014 dengan kasus pembedahan sebanyak 88 orang (dengan rincian appendictomy sebanyak 41 orang, herniotomy sebanyak 35 orang dan cholelitiasis sebanyak 12 orang).
Dari hasil pengamatan yang dilakukan di Ruang Bedah RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara pada bulan Februari 2014 jumlah pasien yang dirawat sebanyak 40 pasien dengan bermacam-macam kasus pembedahan. Dari jumlah tersebut didapatkan kasus pembedahan abdomen sebanyak 22 pasien. Dari 22 pasien tersebut didapatkan ± 70% (± 15 pasien) yang tidak segera melaksanakan mobilisasi setelah dilakukan pembedahan. Sebagian diantara pasien tersebut memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan berasal dari daerah pedesaan, dimana mereka masih menganut kepercayaan atau keyakinan-keyakinan yang bertentangan dengan kesehatan.
Beberapa alasan dari penderita yang tidak segera melakukan mobilisasi adalah karena rasa sakit pada luka operasi, takut kalau dibuat bergerak jahitan pada luka operasi lepas, dan tidak tahu kalau sebenarnya sudah diperbolehkan untuk mobilisasi.. Dari hasil pengamatan ini, dapat disimpulkan bahwa kurangnya informasi/ pengetahuan tentang pentingnya/ manfaat mobilisasi akan sangat merugikan bagi pasien. Karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang nantinya akan memperlambat proses penyembuhan dan memperpanjang hari perawatan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pendidian Kesehatan  Mobilisasi Dini Terhadap Percepatan Mobilisasi Dini Pada Pasien Post Operasi Abdomen di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara”.

B.    Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah : “Adakah pengaruh pendidikan kesehatan mobilisasi dini terhadap percepatan mobilisasi dini pada pasien post operasi abdomen di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara?”.

C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya pengaruh pendidikan kesehatan mobilisasi dini terhadap percepatan mobilisasi dini pada pasien post operasi abdomen di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.
2.      Tujuan Khusus
a.     Mengobservasi mobilisasi pasca operasi abdomen pada kelompok yang diberi intervensi pendidikan kesehatan tentang mobilisasi dini di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.
b.     Mengobservasi mobilisasi pasca operasi abdomen pada kelompok yang tidak diberikan intervensi pendidikan kesehatan mobilisasi dini di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.
c.      Mengidentifikasi pengaruh pendidikan kesehatan mobilisasi dini terhadap percepatan mobilisasi dini pada pasien post operasi abdomen di RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Teoritis
a.     Dengan pemberian penyuluhan tentang manfaat mobilisasi dini pasca pembedahan diharapkan dapat meningkatkan kemandirian dan kepatuhan penderita dalam melaksanakan mobilisasi dini.
b.     Dari segi pengembangan ilmu, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan untuk kemajuan profesi keperawatan dalam bidang pengetahuan dan tehnologi.
2.      Praktis
a.     Bagi pasien dengan melaksanakan mobilisasi dini post pembedahan dapat mencegah komplikasi dan mempersingkat hari perawatan.
b.     Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan bahan pertimbangan bagi instansi dalam upaya meningkatkan mutu pelayan pada konsumen.
c.      Dapat digunakan sebagai data dasar, acuan atau informasi untuk penelitian selanjutnya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar