Selasa, 02 September 2014

FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEKAMBUHAN PASIEN PENYAKIT SKIZOFRENIA




ABSTRAK
 
FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEKAMBUHAN PASIEN PENYAKIT SKIZOFRENIA”.

Skizoprenia adalah sekelompok masalah reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi, menerima, dan menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi, dan berperilaku dengan sikap yang dapat diterima secara sosial. Masalah yang dihadapi adalah karena sebagian besar keluarga klien skizofrenia kurang memahami dan pengetahuan tentang perawatan klien skizofrenia masih rendah. Faktor resiko apa sajakah yang berhubungan dengan kekambuhan pasien penyakit Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor faktor resiko apa sajakah yang berhubungan dengan kekambuhan pasien penyakit Skizofrenia .
Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan rancangan cross sectional study. Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien penyakit Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa  periode Januari-Maret 2014 sebanyak 52 orang. Sampel penelitian yaitu semua pasien penyakit Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa yang berjumlah 52 responden dengan menggunakan tekhnik total sampling.
Penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kekambuhan pasien penyakit Skizofrenia dengan pengetahuan (x2Hit = 7,474), sikap (x2Hit = 5,398), dan dukungan keluarga (x2Hit = 4,546). 
Saran agar Rumah Sakit Jiwa  dapat meningkatkan mutu pelayanan faktor resiko terhadap kekambuhan pasien penyakit Skizofrenia.

Kata Kunci           : Pengetahuan, Sikap, Dukungan Keluarga, Skizofrenia,
  Rumah Sakit Jiwa
Daftar Pustaka    : 21 (2007 – 2014)

ABSTRACT

RISK FACTORS ASSOCIATED WITH PATIENT SCHIZOPHRENIA RELAPSE ”.

Schizophrenia is a psychotic reaction to a group of problems that affect various areas of individual functions, including thinking and communicating, receiving, and interpreting reality, feel and show emotions, and behave in a manner that is socially acceptable. The problem faced is that most of the clients schizophrenia families lack understanding and knowledge of the client schizophrenia treatment is still low. What are the risk factors associated with recurrence of disease Schizophrenia patients in the Mental Hospital of Southeast Sulawesi Province. The study aims to determine what are the risk factors associated with recurrence of disease Schizophrenia patients .
This research is analytic study with cross sectional study. The population of this study were all patients Schizophrenia  January-March 2014 as many as 52 people. The study sample is all schizophrenia patients , amounting to 52 total respondents using sampling techniques.
This study shows that there is a significant relationship between disease recurrence Schizophrenia patients with the knowledge (x2Hit = 7.474), attitude (x2Hit = 5.398), and family support (x2Hit = 4.546).
Advice to the Mental Hospital can improve service quality risk factor for disease recurrence Schizophrenia patients.

Keywords      : Knowledge, Attitude, Family Support, Schizophrenia, Mental
                          Hospital
Bibliography :  21 (2005-2012)

BAB I


PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Secara global organisasi kesehatan (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai suatu keadaan sejahtera fisik (jasmani), mental (rohani), dan sosial yang lengkap bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.  Dari definisi tersebut bisa disimpulkan bahwa kesehatan fisik, kesehatan jiwa dan kesehatan sosial adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam menentukan status kesehatan seseorang (WHO, 2010) mendefinisikan kesehatan jiwa sebagai suatu kondisi sejahtera dimana individu menyadari kemampuan yang dimilikinya, dapat mengatasi stress dalam kehidupannya, dapat bekerja secara produktif, dan mempunyai kontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.
Gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental (Yosep, 2007). Menurut data World Health Organization (WHO) masalah gangguan jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius. WHO dalam Yosep (2007)  menyatakan, paling tidak, ada satu dari empat orang di dunia mengalami masalah mental dan saat ini di perkirakan ada  450 penderita ganggguan jiwa di dunia (Fitriana, 2010).
Penyakit skizofrenia memang masih kurang populer di kalangan masyarakat awam. Tetapi gangguan jiwa ini sudah mulai mencemaskan karena sampai sekarang penanganannya masih belum memuaskan. Di masa lalu banyak orang menganggap skizofrenia merupakan penyakit yang tidak dapat diobati. Akan tetapi seiring dengan kemajuan dibidang ilmu kedokteran jiwa maka kini anggapan itu berlangsung hilang dan diakui skizofrenia sebenarnya termasuk gangguan kesehatan dan termasuk dalam ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) yang penanganannya sesuai dengan terapi kedokteran sebagaimana halnya penyakit fisik lainnya (Dadang Hawari, 2010).
Gangguan jiwa skizofrenia tidak terjadi dengan sendirinya begitu saja. Akan tetapi banyak faktor yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala skizofrenia. Berbagai penelitian telah banyak dilakukan untuk menjelaskan tentang penyebab skizofrenia. Dalam teori biologi menjelaskan penyebab skizofrenia yang berfokus pada faktor genetik, faktor neuronatomi dan neurokimia (struktur dan fungsi otak) serta imunovirologi atau respon tubuh terhadap pajanan suatu virus (Sheila L. Videbeck, 2008).
Skizofrenia  bisa  terjadi  pada  siapa  saja.  Seringkali  pasien  Skizofrenia digambarkan  sebagai  individu  yang  bodoh,  aneh,  dan  berbahaya  (Irmansyah, 2006).  Sebagai  konsekuensi  kepercayaan  tersebut,  banyak  pasien  Skizofrenia tidak  dibawa  berobat  ke  dokter  (psikiater) melainkan  disembunyikan,  kalaupun akan dibawa berobat, mereka tidak dibawa ke dokter melainkan dibawa ke “orang pintar” (Hawari, 2007). Skizofrenia merupakan sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi individu, termasuk fungsi berfikir dan berkomunikasi, menerima dan menginterpretasikan relitas, merasakan dan menunjukan emosi dan perilaku yang dapat diterima secara rasional (Stuart& Laraia, 2011).
Skizofrenia dalam masyarakat umum terdapat 0,2 sampai 0,8%. Bila diproyeksikan dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih kurang 200 juta jiwa tahun 2013 maka jumlah penduduk yang mengalami skizofrenia ada 400 ribu sampai 1,6 juta orang. Angka yang besar ini menjadi tantangan berat terutama bagi Departemen Kesehatan dalam menangani masalah ini  (Maramis, 2009).
Jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia saat ini, menurut data Departemen Kesehatan tahun 2013, mencapai lebih dari 28 juta orang, dengan kategori gangguan jiwa ringan 11,6 persen dari populasi dan 0,46 persen menderita gangguan jiwa berat (Kompas.com, 2014). Diperkirakan sekitar 2,5 juta jiwa atau 1% lebih dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa yang sampai sekarang belum diketahui secara pasti penyebabnya. Berdasarkan survey Kesehatan Rumah Tangga di 11 kota pada tahun 2013, ditemukan 185 penderita gangguan jiwa dalam populasi 1000 penduduk Indonesia (Hamid, 2014). Meskipun pengetahuan kita tentang penyebab dan patogenesis skizofrenia sangat kurang, masih diperkirakan angka kejadian skizofrenia di Indonesia 0,2 % - 0,8 % setahun (Maramis, 2009).
Untuk mengurangi perawatan ulang atau frekuensi kekambuhan dan untuk mengurangi klien skizofrenia dirawat di Rumah Sakit Jiwa, perlu adanya pendidikan kesehatan jiwa yang ditujukan kepada klien, keluarga yang merawatnya, atau orang lain yang bertanggung jawab merawatnya. Sebagai upaya meningkatkan pengetahuan klien tentang skizofrenia, kepatuhan dalam minum obat. Banyak metode telah dikembangkan dunia pendidikan. Metode pendidikan kesehatan yang digunakan dalam menyampaikan pesan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan tentang skizofrenia, kepatuhan dalam minum obat adalah ceramah dan tanya jawab. Ceramah dan tanya jawab adalah metode yang cukup efektif sebagai penyampaian pesan (Sena, 2006).
Ada beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan skizofrenia, antara lain penderita tidak minum obat dan tidak kontrol ke dokter secara teratur, menghentikan sendiri obat tanpa persetujuan dari dokter, kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat, serta adanya masalah kehidupan yang berat yang membuat stress. sehingga penderita kambuh dan perlu dirawat di rumah sakit. Berbagai upaya pengobatan dan teori model konsep keperawatan jiwa telah dilaksanakan, akan tetapi masih banyak klien yang mengalami perawatan ulang atau kekambuhan dan mondok di rumah sakit jiwa. klien dengan diagnosa skizofrenia diperkirakan akan kambuh 50% pada tahun pertama, 70% pada tahun kedua setelah pulang dari rumah sakit, kekambuhan 100% pada tahun kelima (Widodo, 2008).
Selain itu angka kekambuhan pada pasien skizofrenia juga disebabkan karena beberapa faktor, yaitu klien, dokter, penanggung jawab klien, keluarga.  Salah satu faktor yang berperan terhadap kekambuhan pasien skizofrenia adalah faktor keluarga. Menurut hasil penelitian di Inggris (Vough dalam Keliat, 2012) dan Amerika Serikat (Synder dalam Keliat, 2012) memperlihatkan bahwa keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi (bermusuhan, mengkritik) diperkirakan kambuh dalam waktu 9 bulan. Hasilnya 57% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi dan 17% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi yang rendah.
Keluarga merupakan jalinan relasi dan ruang hidup anggota-anggotanya. Dalam ruang hidup tesebut, para anggota keluarga hidup berkembang dan berelasi satu sama lain. Perubahan ruang hidup tergantung pada relasi para anggotanya. Bila ada relasi yang erat satu sama lain maka ruang hidup akan membesar sedangkan bila ada konflik yang berkepanjangan maka akan menyempit. Ada kaitan erat antara dinamika keluarga dengan proses kemunculan skizofrenia. Penderita skizofrenia tampaknya mengalami gangguan dalam pembentukan kepribadian mereka yang disebabkan oleh gangguan pada dinamika keluarga. Dengan kata lain bilamana ada gangguan dalam dinamika keluarga dimasa perkembangan kepribadian yang paling awal, maka perkembangan kepribadian menjadi teganggu pula dan menjadi rentan mengalami skizofrenia. Dinamika keluarga yang penuh konflik akan sangat mengganggu ruang hidup yang ada pada keluarga dan sebagai akibatnya lebih berisiko pada kekambuhan penderita skizofrenia. (Arif,2006)
Masalah yang dihadapi adalah karena sebagian besar keluarga klien skizofrenia kurang memahami dan pengetahuan tentang perawatan klien skizofrenia masih rendah. Pengetahuan keluarga tentang perawatan klien skizofrenia di Indonesia sepertinya kurang memadahi. Menurut Arif (2006) secara umum dapat diketahui bahwa keluarga masih kurang memiliki informasi-informasi yang adekuat tentang skizofrenia, perjalanan penyakitnya dan bagaimana tatalaksana untuk mengupayakan rehabilitasi bagi pasien. Sedangkan menurut Nurdiyana dkk (2007) bahwa kekambuhan tinggi disebabkan oleh kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit skizofrenia sehingga peran serta keluarga rendah.
Keluarga yang mempunyai pasien skizofrenia cenderung tertutup dan enggan diwawancarai, agaknya hal ini disebabkan oleh stigma, rasa malu dan penyalahan dari lingkungan sosial yang dialami keluarga. Bagi beberapa keluarga kehadiran skizofrenia menimbulkan aib yang besar. Hal ini tidak terbatas pada keluarga dengan status sosial ekonomi pendidikan rendah saja, namun juga dialami oleh keluarga kalangan atas, agaknya masih cukup kuat kepercayaan dalam masyarakat bahwa skizofrenia disebabkan oleh kutukan karena dosa, kemasukan roh-roh jahat ataupun disebabkan oleh guna-guna. Hal ini menimbulkan stigma bagi keluarga sehingga mereka malu mengakui ataupun mencari bantuan yang diperlukan. Arif, (2006)
Berdasarkan pendataan awal yang dilakukan oleh peneliti diperoleh data bahwa jumlah penderita gangguan jiwa skizofrenia cenderung mengalami kekambuhan dari tahun ke tahun. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan data rekam medic Rumah Sakit Jiwa yang mengalami kekambuhan periode tahun 2012 sebanyak 45 orang, pada tahun 2013 sebanyak 63 orang sedangkan periode Januari -Maret 2014 sebanyak 35 orang. Sedangkan jumlah pasien dengan keluhan gangguan jiwa periode tahun 2012 sebanyak 185 orang, tahun 2013 sebanyak 204 orang dan periode Januari-Maret 2014 sebanyak 52 orang.
Berdasarkan teori dan fenomena tersebut diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul Faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Kekambuhan Pasien Penyakit Skizoprenia di Rumah Sakit Jiwa .



B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Apakah ada hubungan pengetahuan dengan kekambuhan pasien penyakit skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa  ?
2.      Apakah ada hubungan sikap dengan kekambuhan pasien penyakit skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa ?
3.      Apakah ada hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pasien penyakit skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa ?

C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor resiko yang berhubungan dengan  kekambuhan pasien penyakit skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa .
2.      Tujuan Khusus
a.     Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kekambuhan pasien penyakit skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa.
b.     Untuk mengetahui hubungan sikap dengan kekambuhan pasien penyakit skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa .
c.      Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pasien penyakit skizofrenia .

D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
a.     Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai penambah pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan ilmu yang berkaitan dengan kesehatan jiwa yaitu tentang faktor resiko kekambuhan pasien skizofrenia.
b.     Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pengembangan ilmu keperawatan jiwa, khususnya tentang faktor resiko kekambuhan pasien skizofrenia.
2.      Manfaat Praktis
a.     Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat agar dapat mengetahui tentang faktor resiko kekambuhan pasien skizofrenia.
b.     Bagi Institusi Kesehatan
Sebagai bahan masukan untuk mengkaji sekaligus menentukan solusi terbaik dalam menangani faktor resiko kekambuhan pasien skizofrenia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar