ABSTRAK
“FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEKAMBUHAN PASIEN
PENYAKIT SKIZOFRENIA”.
Skizoprenia adalah sekelompok masalah reaksi psikotik yang mempengaruhi
berbagai area fungsi individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi, menerima,
dan menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi, dan
berperilaku dengan sikap yang dapat diterima secara sosial. Masalah yang
dihadapi adalah karena sebagian besar keluarga klien skizofrenia kurang
memahami dan pengetahuan tentang perawatan klien skizofrenia masih rendah. Faktor resiko apa sajakah yang berhubungan
dengan kekambuhan pasien penyakit Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Provinsi
Sulawesi Tenggara. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor faktor resiko apa sajakah yang berhubungan dengan kekambuhan pasien
penyakit Skizofrenia .
Jenis penelitian
ini adalah penelitian analitik dengan rancangan cross sectional study. Populasi
dari penelitian ini adalah semua pasien penyakit Skizofrenia di Rumah Sakit
Jiwa periode Januari-Maret 2014 sebanyak 52 orang. Sampel penelitian
yaitu semua pasien penyakit Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa yang
berjumlah 52
responden dengan menggunakan tekhnik total sampling.
Penelitian ini
menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kekambuhan pasien
penyakit Skizofrenia dengan pengetahuan (x2Hit = 7,474), sikap (x2Hit = 5,398), dan dukungan keluarga (x2Hit = 4,546).
Saran agar Rumah Sakit Jiwa dapat meningkatkan mutu pelayanan
faktor resiko terhadap kekambuhan pasien penyakit Skizofrenia.
Kata Kunci :
Pengetahuan, Sikap, Dukungan
Keluarga, Skizofrenia,
Rumah Sakit Jiwa
Daftar
Pustaka : 21 (2007 – 2014)
ABSTRACT
“ RISK FACTORS ASSOCIATED WITH PATIENT SCHIZOPHRENIA RELAPSE ”.
Schizophrenia is a psychotic reaction to a group of problems that affect various areas
of individual functions, including thinking and communicating, receiving, and
interpreting reality, feel and show emotions, and behave in a manner that is socially acceptable. The problem faced is that most of the clients schizophrenia families lack understanding and knowledge of the client schizophrenia treatment is still low. What are the risk factors associated with recurrence of disease Schizophrenia patients in
the Mental Hospital of Southeast Sulawesi Province. The study aims to determine what are the risk factors associated with recurrence of disease Schizophrenia patients .
This research is analytic study with cross sectional study. The population of
this study were all patients Schizophrenia January-March 2014 as many as 52 people. The study sample is
all schizophrenia patients , amounting
to 52 total respondents using sampling techniques.
This study shows
that there is a significant relationship between disease recurrence Schizophrenia patients with
the knowledge (x2Hit =
7.474), attitude (x2Hit = 5.398),
and family support (x2Hit =
4.546).
Advice to
the Mental Hospital can
improve service quality risk factor for disease recurrence Schizophrenia patients.
Keywords : Knowledge, Attitude, Family Support, Schizophrenia, Mental
Hospital
Bibliography : 21 (2005-2012)
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Secara global organisasi kesehatan (WHO)
mendefinisikan kesehatan sebagai suatu keadaan sejahtera fisik (jasmani),
mental (rohani), dan sosial yang lengkap bukan hanya bebas dari penyakit atau
kecacatan. Dari definisi tersebut bisa disimpulkan bahwa kesehatan fisik,
kesehatan jiwa dan kesehatan sosial adalah satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan dalam menentukan status kesehatan seseorang (WHO, 2010)
mendefinisikan kesehatan jiwa sebagai suatu kondisi sejahtera dimana individu
menyadari kemampuan yang dimilikinya, dapat mengatasi stress dalam
kehidupannya, dapat bekerja secara produktif, dan mempunyai kontribusi dalam
kehidupan bermasyarakat.
Gangguan jiwa adalah kumpulan dari
keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun
dengan mental (Yosep, 2007). Menurut data World Health Organization (WHO)
masalah gangguan jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat
serius. WHO dalam Yosep (2007) menyatakan, paling tidak, ada satu dari
empat orang di dunia mengalami masalah mental dan saat ini di perkirakan
ada 450 penderita ganggguan jiwa di dunia (Fitriana, 2010).
Penyakit skizofrenia memang masih kurang populer
di kalangan masyarakat awam. Tetapi gangguan jiwa ini sudah mulai mencemaskan
karena sampai sekarang penanganannya masih belum memuaskan. Di masa lalu banyak
orang menganggap skizofrenia merupakan penyakit yang tidak dapat
diobati. Akan tetapi seiring dengan kemajuan dibidang ilmu kedokteran jiwa maka
kini anggapan itu berlangsung hilang dan diakui skizofrenia sebenarnya termasuk
gangguan kesehatan dan termasuk dalam ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) yang
penanganannya sesuai dengan terapi kedokteran sebagaimana halnya penyakit fisik
lainnya (Dadang Hawari, 2010).
Gangguan jiwa skizofrenia tidak terjadi
dengan sendirinya begitu saja. Akan tetapi banyak faktor yang menyebabkan
terjadinya gejala-gejala skizofrenia. Berbagai penelitian telah banyak
dilakukan untuk menjelaskan tentang penyebab skizofrenia. Dalam teori biologi
menjelaskan penyebab skizofrenia yang berfokus pada faktor genetik,
faktor neuronatomi dan neurokimia (struktur dan fungsi otak)
serta imunovirologi atau respon tubuh terhadap pajanan suatu virus
(Sheila L. Videbeck, 2008).
Skizofrenia bisa terjadi pada
siapa saja. Seringkali pasien Skizofrenia
digambarkan sebagai individu yang bodoh,
aneh, dan berbahaya (Irmansyah, 2006). Sebagai
konsekuensi kepercayaan tersebut, banyak pasien
Skizofrenia tidak dibawa berobat ke dokter (psikiater)
melainkan disembunyikan, kalaupun akan dibawa berobat, mereka tidak
dibawa ke dokter melainkan dibawa ke “orang pintar” (Hawari, 2007). Skizofrenia
merupakan sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi
individu, termasuk fungsi berfikir dan berkomunikasi, menerima dan
menginterpretasikan relitas, merasakan dan menunjukan emosi dan perilaku yang dapat
diterima secara rasional (Stuart& Laraia, 2011).
Skizofrenia dalam masyarakat umum terdapat
0,2 sampai 0,8%. Bila diproyeksikan dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih
kurang 200 juta jiwa tahun 2013 maka jumlah penduduk yang mengalami skizofrenia
ada 400 ribu sampai 1,6 juta orang. Angka yang besar ini menjadi tantangan
berat terutama bagi Departemen Kesehatan dalam menangani masalah ini
(Maramis, 2009).
Jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia
saat ini, menurut data Departemen Kesehatan tahun 2013, mencapai lebih dari 28
juta orang, dengan kategori gangguan jiwa ringan 11,6 persen dari populasi dan
0,46 persen menderita gangguan jiwa berat (Kompas.com, 2014).
Diperkirakan sekitar 2,5 juta jiwa atau 1% lebih dari keseluruhan jumlah
penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa yang sampai sekarang belum diketahui
secara pasti penyebabnya. Berdasarkan survey Kesehatan Rumah Tangga di 11 kota
pada tahun 2013, ditemukan 185 penderita gangguan jiwa dalam populasi 1000
penduduk Indonesia (Hamid, 2014). Meskipun pengetahuan kita tentang penyebab
dan patogenesis skizofrenia sangat kurang, masih diperkirakan angka kejadian
skizofrenia di Indonesia 0,2 % - 0,8 % setahun (Maramis, 2009).
Untuk mengurangi perawatan ulang atau
frekuensi kekambuhan dan untuk mengurangi klien skizofrenia dirawat di Rumah
Sakit Jiwa, perlu adanya pendidikan kesehatan jiwa yang ditujukan kepada klien,
keluarga yang merawatnya, atau orang lain yang bertanggung jawab merawatnya.
Sebagai upaya meningkatkan pengetahuan klien tentang skizofrenia, kepatuhan
dalam minum obat. Banyak metode telah dikembangkan dunia pendidikan. Metode
pendidikan kesehatan yang digunakan dalam menyampaikan pesan yang bertujuan
meningkatkan pengetahuan tentang skizofrenia, kepatuhan dalam minum obat adalah
ceramah dan tanya jawab. Ceramah dan tanya jawab adalah metode yang cukup
efektif sebagai penyampaian pesan (Sena, 2006).
Ada beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan
skizofrenia, antara lain penderita tidak minum obat dan tidak kontrol ke dokter
secara teratur, menghentikan sendiri obat tanpa persetujuan dari dokter,
kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat, serta adanya masalah kehidupan
yang berat yang membuat stress. sehingga penderita kambuh dan perlu dirawat di
rumah sakit. Berbagai upaya pengobatan dan teori model konsep keperawatan jiwa
telah dilaksanakan, akan tetapi masih banyak klien yang mengalami perawatan
ulang atau kekambuhan dan mondok di rumah sakit jiwa. klien dengan diagnosa
skizofrenia diperkirakan akan kambuh 50% pada tahun pertama, 70% pada tahun
kedua setelah pulang dari rumah sakit, kekambuhan 100% pada tahun kelima
(Widodo, 2008).
Selain itu angka kekambuhan pada pasien
skizofrenia juga disebabkan karena beberapa faktor, yaitu klien, dokter,
penanggung jawab klien, keluarga. Salah satu faktor yang berperan
terhadap kekambuhan pasien skizofrenia adalah faktor keluarga. Menurut hasil
penelitian di Inggris (Vough dalam Keliat, 2012) dan Amerika Serikat (Synder
dalam Keliat, 2012) memperlihatkan bahwa keluarga dengan ekspresi emosi yang
tinggi (bermusuhan, mengkritik) diperkirakan kambuh dalam waktu 9 bulan.
Hasilnya 57% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi
dan 17% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi yang rendah.
Keluarga merupakan jalinan relasi dan ruang
hidup anggota-anggotanya. Dalam ruang hidup tesebut, para anggota keluarga
hidup berkembang dan berelasi satu sama lain. Perubahan ruang hidup tergantung
pada relasi para anggotanya. Bila ada relasi yang erat satu sama lain maka
ruang hidup akan membesar sedangkan bila ada konflik yang berkepanjangan maka
akan menyempit. Ada kaitan erat antara dinamika keluarga dengan proses
kemunculan skizofrenia. Penderita skizofrenia tampaknya mengalami gangguan
dalam pembentukan kepribadian mereka yang disebabkan oleh gangguan pada
dinamika keluarga. Dengan kata lain bilamana ada gangguan dalam dinamika
keluarga dimasa perkembangan kepribadian yang paling awal, maka perkembangan
kepribadian menjadi teganggu pula dan menjadi rentan mengalami skizofrenia. Dinamika
keluarga yang penuh konflik akan sangat mengganggu ruang hidup yang ada pada
keluarga dan sebagai akibatnya lebih berisiko pada kekambuhan penderita
skizofrenia. (Arif,2006)
Masalah yang dihadapi adalah karena sebagian
besar keluarga klien skizofrenia kurang memahami dan pengetahuan tentang
perawatan klien skizofrenia masih rendah. Pengetahuan keluarga tentang
perawatan klien skizofrenia di Indonesia sepertinya kurang memadahi. Menurut
Arif (2006) secara umum dapat diketahui bahwa keluarga masih kurang memiliki
informasi-informasi yang adekuat tentang skizofrenia, perjalanan penyakitnya
dan bagaimana tatalaksana untuk mengupayakan rehabilitasi bagi pasien.
Sedangkan menurut Nurdiyana dkk (2007) bahwa kekambuhan tinggi disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit skizofrenia sehingga peran
serta keluarga rendah.
Keluarga yang mempunyai pasien skizofrenia
cenderung tertutup dan enggan diwawancarai, agaknya hal ini disebabkan oleh
stigma, rasa malu dan penyalahan dari lingkungan sosial yang dialami keluarga.
Bagi beberapa keluarga kehadiran skizofrenia menimbulkan aib yang besar. Hal
ini tidak terbatas pada keluarga dengan status sosial ekonomi pendidikan rendah
saja, namun juga dialami oleh keluarga kalangan atas, agaknya masih cukup kuat
kepercayaan dalam masyarakat bahwa skizofrenia disebabkan oleh kutukan karena
dosa, kemasukan roh-roh jahat ataupun disebabkan oleh guna-guna. Hal ini
menimbulkan stigma bagi keluarga sehingga mereka malu mengakui ataupun mencari
bantuan yang diperlukan. Arif, (2006)
Berdasarkan pendataan awal yang dilakukan
oleh peneliti diperoleh data bahwa jumlah penderita gangguan jiwa skizofrenia
cenderung mengalami kekambuhan dari tahun ke tahun. Hal tersebut dapat dilihat
berdasarkan data rekam medic Rumah Sakit Jiwa yang mengalami kekambuhan
periode tahun 2012 sebanyak 45 orang, pada tahun 2013 sebanyak 63 orang
sedangkan periode Januari -Maret 2014 sebanyak 35 orang. Sedangkan jumlah
pasien dengan keluhan gangguan jiwa periode tahun 2012 sebanyak 185 orang,
tahun 2013 sebanyak 204 orang dan periode Januari-Maret 2014 sebanyak 52 orang.
Berdasarkan teori dan fenomena tersebut
diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul Faktor Resiko
Yang Berhubungan Dengan Kekambuhan Pasien Penyakit Skizoprenia di Rumah Sakit
Jiwa .
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Apakah ada hubungan pengetahuan
dengan kekambuhan pasien penyakit skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa ?
2.
Apakah ada hubungan sikap
dengan kekambuhan pasien penyakit skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa ?
3.
Apakah ada hubungan dukungan
keluarga dengan kekambuhan pasien penyakit skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa ?
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor resiko yang berhubungan
dengan kekambuhan pasien penyakit skizofrenia
di Rumah Sakit Jiwa .
2.
Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan
dengan kekambuhan pasien penyakit skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa.
b.
Untuk mengetahui hubungan sikap dengan kekambuhan pasien
penyakit skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa .
c.
Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan
pasien penyakit skizofrenia .
D. Manfaat Penelitian
1.
Manfaat
Teoritis
a.
Bagi
Peneliti Selanjutnya
Sebagai penambah pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan ilmu yang
berkaitan dengan kesehatan jiwa yaitu tentang faktor resiko kekambuhan pasien skizofrenia.
b.
Bagi
Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
bahan pengembangan ilmu keperawatan jiwa, khususnya tentang faktor
resiko kekambuhan pasien
skizofrenia.
2.
Manfaat
Praktis
a.
Bagi
Masyarakat
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dan
pengetahuan kepada masyarakat agar dapat mengetahui tentang faktor
resiko kekambuhan pasien
skizofrenia.
b.
Bagi
Institusi Kesehatan
Sebagai
bahan masukan untuk mengkaji sekaligus menentukan solusi terbaik dalam menangani
faktor resiko kekambuhan
pasien skizofrenia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar